Ungkapan Hati Seorang Ibu
My Adek
“Mom…. Adek udah lulus,” terdengar suaranya yang khas lewat video call. “Tadi sidangnya sekitar satu jam dan langsung dinyatakan lulus,” lanjutnya dengan nada tersendat setengah menangis.
Alhamdulillah... aku mengucap syukur. Bahagia, terharu, bangga… juga sedih, semua bercampur aduk. Ingin rasanya memeluknya, menciumnya, dan mengungkapkan semua perasaan ini secara fisik kepada Atha, anak terakhirku. Ternyata ia mampu menyelesaikan program sarjananya tepat waktu.
Suatu prestasi? Mungkin bagi orang lain biasa-biasa saja, tetapi bagi aku pribadi itu suatu yang sangat luar biasa.
- Pertama, sebagai anak terakhir, Atha biasa mendapat perlakuan istimewa, baik dari orang tuanya maupun dari kedua kakaknya. Selama ini ia selalu kami posisikan sebagai anak bungsu yang lucu, senang bercanda, smart karena otaknya penuh “trik untuk mendapatkan sesuatu”, belajarnya santai (tidak pernah ‘ngoyo’), dan manja. Selama SMP dan SMA, ia banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang fun dan tidak terlalu akademis sifatnya.
- Kedua, ia saat ini tinggal secara mandiri di asrama kampus di universitas, di kota dan di negara asing. Asing dari segi bahasanya, bangsanya, dan budayanya. Ia memang harus belajar bahasa Jerman dan mengambil program studienkolleg sebelum mulai berkuliah di Frankfurt University of Applied Science. Walau sempat merasa minder melihat teman-teman SMAnya sudah mulai kuliah sementara ia masih mempersiapkan segala sesuatunya, ia jalani semuanya dengan istiqomah.
- Ketiga, ia mampu menyelesaikan program studi Bachelor of Engineering di Frankfurt University of Applied Science dalam waktu empat tahun! Ini termasuk jarang, karena biasanya mahasiswa Indonesia membutuhkan adaptasi di awal-awal masa perkuliahan sehingga keseluruhan program memakan waktu lebih dari empat tahun. Walau sering mengatakan bahwa ia stress dan nervous setiap kali mau ujian, nyatanya ia mampu memperoleh nilai yang bagus. Lebih bagus dari kedua kakaknya, bahkan. Untuk ujian skripsinya ia memperoleh nilai 1 (Sistem nilai IPK di Jerman terbalik; yaitu 1-4 dari yang terbaik sampai terburuk).
- Keempat, jurusan yang diambilnya, Product Development and Technical Design, bukanlah jurusan yang banyak diminati oleh mahasiswa Indonesia, sehingga ia tidak memiliki teman Indonesia yang dapat diajak berdiskusi. Selain itu, jurusan ini juga minim peminat wanitanya. Alhasil, ia tidak banyak memiliki teman kuliah wanita yang satu jurusan. Banyak tugas dan project yang harus dilakukannya secara teknis di laboratorium. Padahal, selama ini kami tahu ia jarang sekali membantu bapaknya dengan urusan teknis di rumah.
- Kelima, ia berhasil mendapatkan tempat magang untuk bahan skripsinya di sebuah perusahaan internasional. Atasannya di perusahaan tersebut sangat suportif dan membantunya memperoleh semua data yang dibutuhkan untuk penulisan skripsinya. Namun, tantangannya adalah ia harus menulis skripsinya dalam bahasa Inggris karena ia harus mempresentasikan hasil skripsinya ke manajemen. Jadi, bisa dibayangkan, Atha yang berbahasa ibu Indonesia, harus mendengarkan kuliah berbahasa Jerman, dan menulis skripsi berbahasa Inggris!
.....
“Adek kenapa nangis? Ibu jadi ikut nangis, nih! Seneng, ‘kan sudah lega bisa selesai tepat waktu? Jarang lho yang bisa menyelesaikan program studi di Jerman tepat waktu. You should be proud of yourself, Dek!”
“Iya seneng. Tapi juga sedih. Bayangin, Bu. Menyiapkan semua sendiri di kamar, ujian skripsi sendirian di kamar. Dinyatakan lulus pun tetep sendirian di kamar… Sedih ‘kan Bu? Gak ada siapa-siapa untuk share what I feel at that moment.”
Perasaan yang sama aku rasakan. Senang, lega, bahagia, tapi juga sedih… dan rindu luar biasa!!!
Aku membayangkan apa yang dirasakannya. Tahun yang lalu kami sudah berencana akan menengoknya di Frankfurt. Aku dan suami sudah menabung sedikit demi sedikit agar dapat berada bersamanya saat ia menjalani sidang skripsinya. Tentu itu menjadi motivasi yang kuat baginya untuk menyelesaikan riset dan skripsinya agar dapat maju sidang sekitar bulan Juli-Agustus 2020 ini.
Tapi apa boleh buat… Pandemi Covid-19 mengubah semua rencana kami! Benar-benar kami dapat menghayati makna pepatah “Manusia dapat berencana, tetapi Tuhan yang menentukan”. Alhamdulillah teknologi menjadi dewa penolong kami. Kami masih dapat berkomunikasi hampir setiap saat. Via WA hampir setiap hari, WA call atau video call setiap minggu… paling tidak saling kirim emoticon untuk mengungkapkan perasaan masing-masing.
Semenjak Atha berangkat ke Frankfurt di awal tahun 2015, kami belum pernah menengoknya ke sana. Namun, ia sempat beberapa kali pulang ke Indonesia karena ada beberapa acara keluarga yang perlu dihadirinya. Tentu perjalanan pulang-pergi beberapa kali itu sudah membuat tabungan kami berkurang. Atha pun menyadari hal itu. Maka, sebelum keberangkatannya kembali ke Frankfurt yang terakhir ia menyampaikan, “Ya, udah, Pak, Bu… ‘nggak papa Bapak Ibu jadinya ‘nggak sempat lihat kehidupan Adek di kampus. Pas Adek sidang aja nanti. Kalau bisa Bapak Ibu pas di sana, mendampingi aku.”
“Insya Allah, Dek. Doakan rezeki yang cukup biar Bapak Ibu bisa ke Frankfurt.”
Tanggal 19 Agustus 2020, sidang skripsinya berlangsung secara daring via Zoom di kamar asrama kampusnya tepat pukul 10.30 waktu Frankfurt. Ia dinyatakan lulus dengan gelar Bachelor of Engineering dari Frankfurt University of Applied Scince pukul 11.45.
Congratulation, Adek! We are so so so very proud of you! We wish we could have been there with you. But believe it, our prayers and love were with you all the time.

Depo 20ribu bisa menang puluhan juta rupiah
ReplyDeletemampir di website ternama I O N Q Q.ME
paling diminati di Indonesia, ::))
di sini kami menyediakan 9 permainan dalam 1 aplikasi
~bandar poker
~bandar-Q
~domino99
~poker
~bandar66
~sakong
~aduQ
~capsa susun
~perang baccarat (new game)
segera daftar dan bergabung bersama kami.Smile :d
Whatshapp : +85515373217 :* (f)